Sunday, October 12, 2014

Sudah Punya ATM untuk Membayar Sewa Rusun?

Selama ini rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang dikembangkan oleh Perum Perumnas dikelola secara manual, yaitu melayani pembayaran sewa unit melalui loket pembayaran. Untuk meningkatkan pelayanan para penghuni rumah susun, Perumnas bekerja sama dengan BRI mengaktifkan BRI Virtual Account (BRIVA).

Direktur Bisnis Kelembagaan dan BUMN BRI Asmawi Syam mengatakan, para penghuni rusunawa akan memegang kartu ATM berisi 15 digit kode. Selain untuk membayar sewa, kartu tersebut juga bisa digunakan menabung atau tarik tunai. 

"Sebenarnya itu kartu ATM biasa, hanya fungsinya ditambah. Harusnya ada dua kartu, rekening kartu dan Virtual Account. Ini dijadikan satu," kata Asmawi usai acara 'Sinergi BUMN: Peluncuran Pembayaran Sewa Online Penghuni Rusunawa Perumnas Melalui BRI Virtual Account' di Rumah Susun Sewa Pulogebang, Jakarta Timur, Rabu (23/9/2014).
Asmawi menjelaskan, pada kartu ATM lainnya fungsi BRIVA tidak diaktifkan. Pada kartu ini, BRIVA telah didaftarkan sehingga penghuni hanya perlu memasukkan 15 digit kode Perumnas. 

Pada saat akan membayar, lewat ATM misalnya, layar akan menampilkan jumlah yang harus penghuni bayarkan. Setelah membayar, uang sewa itu secara otomatis masuk ke rekening Perumnas.
"Ini memudahkan Perumnas untuk mengalokasikan. Supaya (penghuni) yang menunggak kelihatan juga," kata Asmawi.
BRIVA, lanjut dia, merupakan virtual account perbankan dengan sistem real-time online.Dengan begitu,seluruh pembayaran dapat dengan mudah dilakukan pengawasan dan pemantauan.
Saat ini, dengan program tersebut seluruh penghuni rusun akan memperoleh nomor rekening virtual account. Pembayaran dapat dilakukan melalui berbagai cara yakni mendatangi langsung kantor cabang BRI di 10.000 jaringan kerja, lewat ATM, internet, ataupun mobile banking.
Sementara itu, Direktur Utama Perumnas, Himawan Arif mengatakan akan sesegara mungkin memberikan sosialisasi pada seluruh penghuni. Dia juga mengatakan, bahwa sistem tersebut tidak akan mempengaruhi tarif sewa unit rusunawa.
"Dengan adanya virtual account ini tidak akan dinaikkan biaya sewanya. Kami menjamin tarifnya tetap," kata Himawan. 

Selain itu, dia menuturkan, pembayaran secara tunai masih dilayani sampai batas waktu tertentu.
posted by,

Dicari Penyewa untuk Menghuni "Kota Hantu" Tianjin Eco City

Program migrasi urban yang dicanangkan pemerintah Tiongkok rupanya tidak berjalan mulus. Ratusan kota baru yang dibangun untuk menampung 100 juta orang desa justru menjelma menjadi kota hantu. 

Pemerintah Tiongkok mulai mendorongpembangunan "eco-city" pertengahan dekade ini. Sejak saat itu, ratusan kota baru tumbuh di seluruh negeri. Sayangnya, hal itu tidak disertai konsep komprehensif dan terintegrasi seperti komit terhadap standar arsitektur hijauketat. Konsep kota masih samar-samar dan bersifat eksperimen dengan perencanaan kotaprogresif dan terpisah dari jaringan infrastruktur transportasi. 



Kota-kota tersebut tak berpenghuni, dan memicu bencana lingkungan serta di ambang krisis properti (bubble)Betapa tidak demikian, kota-kota baru ini sangat sulit dijangkau, tidak ada moda transportasi publik. Selain itu, lanskap kota dibiarkan kosong dan berdebu karena progres konstruksi masih berlangsung.

Satu di antara kota baru tersebut adalah Tianjin Eco City. Kota baru ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah Tiongkok dan Singapura. Tianjin Eco City diproyeksikan menelan dana konstruksi sekitar 24 miliar poundsterling atau setara Rp 470,6 triliun.

Tianjin Eco City seluas 30 kilometer persegi ini dirancang sebagai model pembangunan berkelanjutan. Gedung-gedungnya dibangun sesuai standard bangunan hijau. Pada saatkonstruksi kota baru ini selesai tahun 2020, dapat mengakomodasi 350.000 orang. Tahap pertama seluas tiga kilometer persegi, didesain dapat menampung 6.000 penduduk permanen.
Menurut Neville Mars, seorang arsitek yang berbasis di Shanghai dan penulis buku tentangeco city, Tianjin memiliki keunggulan karena kedekatannya dengan kota metropolitan besardan hub bisnis dan perdagangan. 

Di luar Tianjin, banyak proyek eco-city ambisius lainnya, termasuk Caofeidian di provinsiHebei,yang mangkrak di tengah jalanMasalahnya, kata Mars, adalah "model kota baru"tidak dirancang secara organik.
Selain itu, beberapa ahli mengatakan bahwa bangunan hijau bersertifikat dan jalur pejalan kaki,  bukan solusi. "Orang-orang Tiongkok menggunakan banyak batu bara untuk transportasi, karena itu sangat murah," kata Tao Ran, Direktur Pelaksana Brookings-Tsinghua Center yang menyorot kebijakan publik.

Saat ini, Tianjin Eco-city berkembang lebih seperti sebuah simulacrum. Banyak gedung berstandar hijau dan ramah lingkungan, terlihat dari penggunaan panel surya sebagai sumber energi, namun sebagian besar tidak terpakai.

Walaupun pengembang mengklaim lebih dari 1.000 perusahaan telah terdaftar dan akan membuka usaha di kota ini, namun banyak etalase pusat belanja kosong melompong. Kondisi yang sama terjadi juga di luar pusat belanja; warung makan, dan kedai kopi digembok pemiliknya karena tidak ada pembeli. 

Manajer Perkotaan, Xu Wenjiao, mengatakan mereka kini membutuhkan lebih banyak orang untuk menghuni properti-properti di sini. Untuk mendorong orang-orang tertarik datang ke Tianjin, Xu menawarkan biaya kuliah hanya Rp 784.000 per bulan.

"Semua upaya dilakukan supaya orang tertarik pindah ke Tianjin. Investor properti ingin asetnya ada yang menyewa dan ditempati," ujarnya.

Berhasilkah upaya Xu? Butuh waktu lama tentunya agar masa depan Tianjin bukan batu tulis kosong semata. Berikut video kondisi aktual Tianjin Eco City:


posted by,

bit.ly/12oy4L

Masih Ada, Properti "Lifestyle" Rp 300 Jutaan di Serpong

 Sudah menjadi rahasia umum, harga properti di kawasan Serpong, Banten, setinggi langit. Klaster terbaru yang diluncurkan Sinar Mas Land, Luxmore, dibanderol dengan harga terendah sekitar Rp 2,2 miliar per unit. 

Tingginya harga properti ini dipicu pertumbuhan harga lahan yang semakin melesat. Saat ini, harga lahan di kawasan perumahan bervariasi mulai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi. Sementara harga lahan di kawasan komersial dan bisnis sudah menembus angka Rp 20 juta hingga Rp 27 juta per meter persegi. 


Menilik harga lahan dan properti selangit itu, semakin menyulitkan kalangan menengah-menengah untuk membeli dan memiliki rumah idaman. Padahal ceruk pasar kelas menengah yang bankable  atau memiliki kemampuan membeli properti dengan harga "wajar" paling banyak. Satu-satunya kesempatan buat mereka adalah beralih ke hunian vertikal.

Presiden Komisaris Pohon Group, Harry Budi Hartanto, mengatakan, kelas menengah di Indonesia adalah generator utama mesin bisnis para pengembang. Merekalah yang membuat bisnis properti terus berputar dan menunjukkan pertumbuhan.

"Kami melihatnya sebagai peluang yang sangat bagus. Membangun properti vertikal atau apartemen dengan harga affordable. Selain itu, kami juga ikut memberikan kontribusi mengurangi kekurangan hunian dan berpartisipasi mengisi konstelasi bisnis properti yang sedang tumbuh," papar Harry, usai seremoni peletakan batu pertama TreePark Apartments and Commercial, kepada Kompas.com, Kamis (25/9/2014). 

Apartemen dengan harga terjangkau, lanjut Harry, sangat diminati kelas masyarakat menengah. Terutama di kawasan Serpong. "Produk kami disambut antusias pasar. Pasar sekarang sudah teredukasi dengan baik, daya beli terus tumbuh. Mereka menerima produk kami dengan baik," tambahnya.

TreePark Apartments and Commercial sendiri merupakan apartemen "lifestyle" yang menyasar kelas menengah dengan segmen pasar sivitas akademika (dosen dan mahasiswa), karyawan yang bekerja di sekitar Serpong, dan investor pemula. Diembel-embeli tagline  "lifestyle" karena dilengkapi dengan komersial ritel yang mendukung aktivitas dan gaya hidup penghuninya.

Direktur Utama PT Pohon Artha Makmur, anak usaha Pohon Group, Norman Eka Saputra, menguatkan pernyataan Harry. Menurut dia, TreePark Apartments and Commercial sudah terserap 90 persen dari total 643 unit. 

"Sisanya tinggal 10 persen saja. Padahal baru dipasarkan sejak lima bulan lalu," imbuh Norman.

Harga TreePark Apartments and Commercial dipatok sebesar Rp 15 juta per meter persegi atau Rp 348 juta untuk tipe studio ukuran 22 meter persegi dan Rp 800 juta untuk tipe tiga kamar tidur.

Menurut Marketing Manager Yoga Lim, pertumbuhan harga apartemen "lifestyle" di Serpong juga sangat signifikan. Per tahun bisa mencapai 20 persen. "Kami menjadwalkan serah terima kunci pada Maret 2017 mendatang," tandasnya.

Selain TreePark Apartment and Commercial Center, Serpong juga saat ini diramaikan properti dengan kelas setara yakni K2 Park yang digarap PT Prioritas Land Indonesia. Apartemen gaya hidup ini dipasarkan dengan harga mulai Rp 350 jutaan sebanyak 600 unit.

"Dengan harga terjangkau, namun bangunan berkualitas, value for money menjadi tinggi. Apartemen "lifestyle" kelas menengah yang sedang dikembangkan saat ini merupakan opsi terbaik bagi konsumen yang ingin memiliki hunian atau investasi progresif di kawasan Serpong," tutur Direktur Utama PT Prioritas Land Indonesia, Marcellus Chandra.

posted by,

bit.ly/12oy4L

Kebutuhan dan Pasokan Rumah Murah Makin Tak Seimbang

Jumlah angka kekurangan (backlog) perumahan di Indonesia semakin bertambah tiap tahunnya. Permasalahan tersebut juga selalu diulas setiap tahun. 

Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), Fuad Zakaria, mengatakan bahwa pembengkakan angka backlog disebabkan karena kurangnya pasokan rumah terhadap kebutuhan masyarakat. Pasokan tidak pernah seimbang dengan kebutuhan. 


"Selama kebutuhan tidak sama dengan supply, ini akan nambah terus," ujar Fuad jumpa pers di Sekretariat DPP APERSI, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (25/9/2014). 

Dia menuturkan, pada 2004 lalu kebutuhan unit rumah sebesar 4 juta unit. Kini, jumlahnya membengkak menjadi 15 juta unit. Dengan demikian, Fuad mencatat, dalam 1 tahun kebutuhan unit rumah saat ini berada pada angka 800.000 hingga 1.000.000 unit. Jika pemenuhan kurang dari itu, maka akan sulit menyeimbangkan antara demand dan supply. 

"Yang utama adalah cara memenuhi kebutuhan per tahunnya. Itu dulu," kata Fuad. 

Menurut dia, jika kebutuhan per tahun saja tidak terpenuhi maka dalam beberapa tahun ke depan, ancaman backlog semakin besar. 

"Ibarat saya punya Rp 3 juta, pengeluaran Rp 5 juta di rumah tangga. Tiap saya pulang selalu minus, sementara saya punya utang Rp 1 miliar. Sampai kiamat juga tidak akan terbayar utang saya," kata Fuad. 

Oleh karena itu, menurut dia, Kementerian Perumahan Rakyat harus melakukan studi tentang backlog di seluruh kabupaten/kota sehingga mendapat data akurat. Data tersebut adalah seputar besaran, jenis rumah, kualitas rumah, dan sebarannya. Dari data-data tersebut, pemerintah dapat menyiapkan tata ruang, merencanakan pengembangan pembangunan rumah dengan jenis, jumlah dan bentuk yang dibutuhkan, serta menyiapkan kebutuhan pendanaan dan pembiayaan.

posted by,

bit.ly/12oy4L

Mulai Pesan, Pilih Unit, hingga Bayar Apartemen Cukup Lewat "Website"

 Pengguna internet di Indonesia tahun ini mencapai 64 juta orang. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring perkembangan teknologi yang semakin murah dan mudah didapatkan. 

Perkembangan tersebut setidaknya akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen di Indonesia. Berdasarkan survey Synthesis Development terhadap perilaku pembeli properti, 25 persen pembeli mencari informasi tentang properti melalui internet. Adapun 23 persen sisanya berasal dari koran dan 18 persen lagi dari iklan billboard


"Ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku pembeli properti mulai berubah. Pemanfaatan media online untuk mencari informasi menunjukkan pembeli properti merupakan savvy customer sehingga mereka punya kemampuan untuk mengolah informasi lebih terstruktur.Anytime, anywhere, fenomena itu menjadi nilai tambah bagi pembeli di kategori ini," kata CEO Synthesis Development, Budi Yanto Lusli, kepada Kompas.com, Kamis (26/9/2014). 

Untuk meningkatkan pelayanan bagi calon pembeli apartemen, lanjut Budi, Synthesis Development juga tengah mengembangkan layanan reservasi apartemen melalui layanane-commerce. Dengan mengunjungi website www.bassuracity.com, calon pembeli tidak hanya bisa melihat semua informasi tentang apartemen Bassura City, melainkan juga bisa melakukan reservasi secara online mulai pemilihan unit sampai pembayaran. 

"Website akan menjadi salah satu kanal penjualan apartemen di masa datang. Saat ini, sebagian calon pembeli sudah sangat pintar untuk mengolah informasi sehingga keputusan mereka untuk membeli jadi lebih independen", ujar Budi. 

Dia menambahkan, berbagai alternatif cara pembayaran juga tersedia saat ini, mulai kartu kredit, DOKU Wallet, hingga internet banking atau clickpay. Dalam merancang layanan e-commerce, lanjut Budi, pihaknya sudah bekerjasama dengan PT Nusa Satu Inti Artha (DOKU). 

"Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang payment gateway. Mereka juga pioneer penyedia solusi pembayaran onlinedi Indonesia," ujar Budi. 

Didirikan pada 2007, DOKU sampai saat ini sudah bekerjasama dengan beberapa bank terkemuka. Perusahaan tersebut memiliki banyak rekam jejak yang mapan dalam merancang, mengintegrasikan dan mengoptimalkan sistem transaksi perdagangan di berbagai industri.

"Bassura memang merchant property pertama kami. Melalui kerjasama ini kami berharap dapat memberikan kemudahan bagi calon pembeli ketika memesan unit apartemen atau membayar biaya-biaya awal, misalnya booking fee," kata Himelda Renuat, Chief Marketing Officer DOKU.

Bassura City merupakan kawasan superblock (mixed use development) di kawasan Jakarta Timur. Sampai saat ini, nilai penjualan unitnya sudah sold out 80 persen. Tahun ini, rata-rata penjualannya setiap bulan mencapai 100 unit apartemen. 

posted by,

bit.ly/12oy4L

Kementerian Perumahan Rakyat Tetap Menjadi Sorotan

 Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) kembali menjadi sorotan. Sorotan kali ini terkait permasalahan perumahan nasional yang tak kunjung mencapai target karena banyak terjadi penyimpangan. Kemenpera sendiri mengalami kesulitan memenuhi target perumahan nasional yang mereka canangkan.

"Ya, kalau pencapaian ini pasti enggak akan bisa dikerjakan Kemenpera sendiri, mesti ada kerjasama dengan stakeholder lain, seperti REI, APERSI, dan Pemda juga selalu kita himbau untuk memerhatikan masalah perumahan ini agar segera teratasi," ujar Rildo Ananda Anwar, Sekretaris Kemenpera saat ditemui di acara penutupan Hari Perumahan Nasional di Jakarta, Kamis (25/9/2014).


Namun, meski mengaku sulit, Kemenpera berjanji tetap berusaha menyelesaikan segala permasalahan dalam perumahan nasional ini. Salah satunya lewat Fasilitas Likuidisasi Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan meminta semua pengembang untuk membuat hunian berimbang masyarakat. 

Rildo juga mengaku optimistis, program perumahan nasional atau rumah murah ini akan tepat sasaran. 

"Untuk yang membeli rumah murah dengan tujuan investasi, saya rasa tidak akan bisa menggunakan FLPP, karena yang dicatat dalam FLPP adalah rumah pertama," jelas Rildo.

Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz kembali menyampaikan bahwa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2015 mendatang masih akan disalurkan. Hanya saja, Djan bersikukuh FLPP tidak lagi akan diberikan untuk pembelian rumah tapak, namun hanya akan untuk pembelian satuan rumah susun (rusun). 

"Tahun 2015 tetap kita anggarkan FLPP, tapi hanya untuk rumah rusun. Sedangkan, untuk rumah tapak sudah tidak ada," ujar Faridz dalam pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Perumahan Rakyat, Sabtu (16/8/2014) lalu.

posted by,

bit.ly/12oy4L

Kemenpera Akui Ada Masalah di Rusunawa Rawa Bebek

 Rumah susun sederhana sewa (rusunawa) merupakan salah satu program Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang mulai dikebut pengerjaannya. Hal itu terlihat dengan rencana Kemenpera untuk kembali membangun lebih banyak rusunawa tidak hanya di Jakarta, melainkan seluruh Indonesia. 

"Saat ini Kemenpera sedang merencanakan pembangunan 600 twin block rusunawa di seluruh Indonesia," ujar Kalawi, staff Kemenpera Bidang Perumahan Nasional, Sekretaris Kemenpera pada acara penutupan Hari Perumahan Nasional di Jakarta, Kamis (25/9/2014).


Kalawi menambahkan, dari 600 twin block tersebut sebagian besarnya akan dibangun di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Tujuannya untuk mendukung Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. 

Namun demikian, Kemenpera perlu membenahi beberapa program rusunawa di Jakarta. Salah satunya adalah Rusunawa Rawa Bebek yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur. Pembangunan Rusunawa tersebut sempat terhenti selama beberapa bulan sehingga membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang kejelasan rusunawa tersebut. 

Menanggapi hal itu, pihak Kemenpera, mengakui bahwa ada sedikit masalah terkait pembangunan rusunawa tersebut.

"Untuk Rusunawa Rawa Bebek, kemarin memang kita ada masalah sama kontraktornya. Tapi, sekarang pembangunannya sudah berlangsung, dan semoga bisa cepat selesai," ujar Rildo Ananda Anwar, Sekretaris Kemenpera saat ditemui di acara penutupan Hari Perumahan Nasional di Jakarta, Kamis (25/9/2014).

Pembangunan rusunawa, lanjut Rildo, membutuhkan banyak pertimbangan, di antaranya adalah lokasi yang dekat dengan tempat bekerja. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat mau dan betah tinggal di rusunawa milik pemerintah. 

Seperti diketahui, proyek pembangunan Rusunawa Rawa Bebek tersebut merupakan perintah dari Kementerian Perumahan Rakyat dan dibangun melalui kontraktor pelaksana PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Tapi, apa yang terjadi?

Saat Kompas.com melihat langsung ke lokasi, Kamis (18/9/2014) lalu, pengerjaan rusunawa tersebut tampak berjalan sangat lamban. Padahal, seperti keterangan di papan informasi lokasi pembangunan, Rusunawa Rawa Bebek itu seharusnya selesai dalam kurun 150 hari kalender atau lima bulan. Nilai kontraknya sendiri berjumlah Rp 23 miliar lebih. Nah?

posted by,

bit.ly/12oy4L

Kenapa Pembangunan Rusunawa Rawa Bebek "Sempat" Terkatung-katung?

Mangkraknya pembangunan Rusunawa Rawa Bebek, Cakung, Jakarta, menimbulkan banyak tanda tanya. Pasalnya, fase mangkrak pembangunan rusun tersebut terjadi bukan dalam hitungan hari, melainkan bulan. Hingga kini, pembangunan Rusunawa Rawa Bebek tak kunjung rampung dan belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Proyek yang ditangani langsung oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk itu ditengarai memiliki banyak masalah. Selain masalah molornya pembangunan, rumor-rumor kecurangan dalam proyek tersebut mulai jadi perbincangan masyarakat sekitar rusunawa.


"Gosipnya sih mandornya ini korupsi beberapa juta dari proyek rusunawa ini," kata Supriyadi kepada Kompas.com di lokasi pembangunan, Kamis (18/9/2014).

Lelaki berumur 46 tahun yang bekerja sebagai penjaga keamanan pool truk di sekitar lokasi rusunawa itu pun menambahkan, bahwa ada sekitar tiga pekerja bangunan tidak betah bekerja di proyek tersebut dan ingin pulang kampung. Ketiga pekerja itu pun akhirnya kabur setelah tidak diperbolehkan pulang kampung oleh sang mandor. 

Supriyadi mengatakan, meski mengetahui kejadian itu, dirinya mengaku tidak begitu dekat dengan para pekerja proyek Rusunawa Rawa Bebek.

"Mereka jarang keluar dari tempat proyek, paling cuma saat makan siang saja. Kalau mereka tanya, dimana minimarket terdekat, ya, saya jawab secukupnya saja," katanya. 

Setelah beberapa bulan mandek, pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, mulai dikerjakan kembali. Dilanjutkannya pembangunan rusunawa tersebut dimulai dengan pemasangan besi-besi pondasi penguat bangunan. Alat-alat berat macam traktor pun masih banyak yang belum diaktifkan.

Pembangunan kembali Rusunawa Rawa Bebek itu baru berlangsung selama beberapa minggu ke belakang, setelah sebelumnya hanya ada pancang-pancang blok rusunawa yang selesai dibuat. Saat Kompas.com berkunjung ke tempat itu, Kamis (18/19/2014) siang, sudah tampak beberapa blok dilengkapi besi penguat pondasi bangunan. 

"Pengerjaannya baru berlangsung lagi tiga minggu ini. Sebelumnya sih kosong. Pemasangan besi-besi itu juga baru seminggu yang lalu," kata Supriyadi.

Menanggapi hal itu, pihak Kemenpera mengakui bahwa ada sedikit masalah terkait pembangunan rusunawa tersebut.

"Untuk Rusunawa Rawa Bebek, kemarin memang kita ada masalah sama kontraktornya. Tapi, sekarang pembangunannya sudah berlangsung, dan semoga bisa cepat selesai," ujar Rildo Ananda Anwar, Sekretaris Kemenpera saat ditemui di acara penutupan Hari Perumahan Nasional di Jakarta, Kamis (25/9/2014).

posted by,

bit.ly/12oy4L

Sebelum Bertransaksi, Pelajari "Pasar Pembeli" vs "Pasar Penjual"

Para ekonom di Zillow membuat ranking 35 area metro terbesar di Amerika Serikat, untuk menentukan kekuatan negosiasi penjual dan pembeli rumah. Para ekonom ini membandingkan harga asli dengan harga yang ditawarkan dan daftar jumlah hari yang dihabiskan untuk bernegosiasi.

Pembeli cenderung memiliki lebih banyak waktu untuk membuat keputusan dan lebih berani saat berunding untuk mendapatkan harga yang lebih rendah. Mereka pun kemungkinan kecil dihadapkan pada perang penawaran yang sengit.


Sebaliknya di pasar penjual, rumah terjual secara cepat sehingga penjual lebih agresif dalam meminta harga tertentu tanpa perlu membuat kelonggaran.

"Perang penawaran merupakan hal yang umum terjadi pada pasar ini, di mana hasilnya sering kali lebih tinggi dari harga sebelumnya. Ini keuntungan lain bagi penjual," kata ekonom Zillow, Skylar Olsen.

Namun, sebelum bertransaksi, ada baiknya Anda memahami kekuatan masing-masing pasar pembeli dan pasar penjual. 

Menurut Coldwell Banker, pasar pembeli adalah saat pasokan lebih dari permintaan. Adabanyak orang yang ingin menjual rumah ketimbang orang yang ingin membeli rumah.Dalam pasar pembeli, penjual mungkin harus menerima harga yang lebih rendah dari nilai ekspektasi. Ini adalah saat ideal untuk pembeli.

Sebaliknya, pasar penjual adalah kondisi di mana p
ermintaan lebih besar dari pasokan.Orang-orang memiliki lebih banyak uang untuk belanja properti, sehingga penjual akan sering melihat beberapa pembeli bersaing untuk membeli properti mereka. Akibatnya hal ini akan mendorong harga naik. Ini berarti bahwa pembeli harus menghabiskan lebih banyakuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Situasi ini sangat ideal bagi penjual,karena mereka mendapatkan harga ekspektasi lebih dari yang diinginkan.

Sangat penting untuk diingat bahwa bahkan di negara yang sama atau kota yang sama, akan ada beberapa pasar yang berbeda. Jadi, Anda mungkin mengalami situasi saat menjual rumah ada keuntungan yang didapat dan membeli rumah dengan harga mahal, atau kombinasi dari keduanya. Hal ini sangat tergantung pada keputusan Anda untuk membeli dan menjual rumah. 

Pasar pembeli dan pasar penjual tidak bertahan selamanya. Sulit untuk memprediksi apa yang pasar akan lakukan dengan akurat. Anda mungkin harus menunggu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menjual saat kondisi "pasar penjual". Dan ketika situasiberubah, pasar justru tidak mendukung Anda. Ini merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan saat Anda memutuskan kapan harus membeli atau menjual rumah.


posted by,

bit.ly/12oy4L

Khusus di Bekasi Utara, Masih Ada Apartemen Seharga Rp 190 Jutaan!

Bisnis apartemen sewa di Bekasi punya tempat tersendiri, meskipun kawasan tersebut merupakan kawasan industri. Kawasan industri Bekasi memiliki 20 persen pekerja dengan level non-buruh.

"Potensi lainnya adalah adanya pengembangan kawasan komersial township seluas minimal 20 persen, yang pastinya akan banyak pendatang dan pekerja baru di sini," ujar Wahjono, Direktur Utama PT Starindo Kapital Indonesia, usai pemancangan tiang pertama (ground breaking) apartemen Metropolitan Park Jl Kali Abang, di Bekasi Utara, Minggu (28/9/2014). 


Subur menjelaskan, keunggulan prospek investasi yang dimiliki apartemen Metropolitan Park adalah lokasi sangat strategis, yakni hanya berjarak 2.5 Km dari Mall Summarecon Bekasi dan dekat dengan kawasan industri Pondok Ungu. Menurut dia, korelasinya adalah untuk di kawasan industri Bekasi ini terdapat 20 persen pekerja dengan level non-buruh dan adanya pengembangan kawasan komersial township yang pastinya akan banyak pendatang dan pekerja baru.
"Mereka itulah yang akan penyewa potensial apartemen sehingga apartemen ini punyainvestment yield dan capital gain yang luar biasa juga," kata Wahjono.

Wahjono mengatakan, proyek tersebut dibangun di atas lahan seluas 1,7 hektar dengan konsep The First Thematic Living at Bekasi. Sampai saat, dalam waktu 4 bulan sejak dipasarkan, apartemen tersebut sudah terjual lebih dari 82 persen unit di Tower Paris yang total berjumlah 500 unit. 

Sementara itu, Subur Kusuma, General Manager Marketing & Sales PT Starindo Kapital Indonesia mengatakan, pengembangan pertama apartemen Metropolitan Park terdiri dari dua tower, yakni Tower Paris dan Tower Milan. Rencananya, pihaknya juga segera meluncurkan menara kedua, yakni Tower Milan. 

"Kami optimistis, sampai akhir tahun nanti seluruh unit di Tower Paris bakal habis terjual, sedangkan Milan bisa terjual sampai 70 persen," kata Subur.

Untuk Tower Paris, tutur Subur, apartemen tipe studio seluas 20 m2 dipasarkan seharga Rp196 jutaan, sedangkan untuk tipe 2 tempat tidur dibanderol seharga Rp 390 jutaan. 

"Sejak diluncurkan Juni lalu, kami sudah mengalami kenaikan harga sebanyak dua kali, dan setelah ground breaking ini kami berlakukan kenaikan harga lagi," katanya.

Dia menargetkan, serah terima untuk apartemen Metropolitan Park akan dilaksanakan pada Desember 2016.
posted by,